Wisuda 43 Usahid Jakarta

IMG_1652

Universitas Sahid Jakarta menyelenggarakan Wisuda ke-43 dengan  tema “Membangun Aturan Hukum Yang Berkepastian dan Berkeadilan di Era Digital 4.0, di Puri Agung Convention Hall Grand Sahid Jaya Hotel, kawasan Soedirman, Jakarta Selatan, Rabu 20 November 2019.

Pada acara Wisuda kali ini diikuti Program Doktor dan Magister 27 orang, Program Sarjana  242 Orang  dan Diploma III sebanyak 7 orang. Pandangan dan wawasan atau Orasi Ilmiah disampaikan Ketua Badan Pengembangan Hukum Nasional Republik Indonesia Prof. Benny Riyanto yang diwakili Kepala Bidang Bantuan Hukum BPHN Arfan  Faiz Muhlizi.

Rektor Usahid Jakarta, Prof. Dr. Ir. Kholil, M.Kom,  menyampaikan bahwa Wisuda ke 43 dengan tema, “Membangun Aturan Hukum Yang Berkepastian dan Berkeadilan di Era Digital 4.0” seperti disampaikan Arfan Faiz Muhlizi akan membantu dalam menjawab tantangan  era digital pada revolusi industri 4.0 yang tidak hanya dihadapi oleh dunia pendidikan, namun juga konstruksi hukum nasional.

Dunia hukum dituntut untuk dapat merespon perubahan aktifitas manusia  dari dunia riel ke dunia digital yang maya,  termasuk perubahan  sifat kejahatan  menjadi kejahatan digital, yang semakin hari semakin  meningkat sehingga perlu antisipasi secara tepat dan cepat.

Ketua  Pembina  Yayasan  Kesejahteraan  Pendidikan  dan  Sosial Sahid  Jaya,  SB. Wiryanti  Sukamdani menyampaikan, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi di Indonesia khususnya Universitas Sahid adalah bagaimana mempersiapkan dan memetakan angkatan kerja dari lulusannya dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Kurikulum dan metode pendidikan harus disesuaikan dengan perubahan iklim bisnis, industri yang semakin kompetitif dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sains.  Namun demikian  filosofi kehidupan yang ke-Indonesiaan harus tetap ditanamkan untuk membentengi dampak dari revolusi ini terhadap pola sikap dan perilaku yang buruk.

Sukamdani  Sahid Gitosardjono (alm) sebagai Pendiri YSJ, kutip Wiryanti, telah banyak menanamkan filosofi kehidupan diantaranya filosofi kebersamaan dan kekeluargaan sebagai dasar  hubungan kerja, filosofi Tri Watak Budi Luhur (taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbakti kepada orang tua dan cinta keluarga dan profesi) sebagai dasar kehidupan.

Kemudian, lanjut dia, filosofi Tri Pakarti Utama  (Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani) sebagai dasar kepemimpinan; filosofi Ilmu – Amal Soleh sebagai dasar pendidikan yang bercirikan kepariwisataan dan kewirausahaan dalam pembangunan.

Serta, kata dia, filosofi Tri Dharma sebagai dasar pengabdian (rumongso melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi, mulat sariro hangroso wani; artinya merasa ikut memiliki, wajib turut memelihara, berani mengoreksi dan mawas diri), yang semuanya relevan untuk terus dijadikan landasan pola tindak dan sikap untuk menghadapi tantangan ini.